Jihad dan Cara Menyikapinya


Berkenaan dengan jihad dan orang-orang yang menyikapi jihad, serta keadaan mereka ketika melaksanakan jihad. Jihad merupakan wasilah untuk menegakkan agama, akan tetapi jihad merupakan cara satu-satunya dalam menegakkan agama. Agama ini akan tegak dengan berbagai macam cara dan dasar dalam menegakkan agama itu sendiri adalah mengajak seseorang kepada Allah SWT, sedangkan dalam jihad pasti berlaku pembunuhan. Kalau jihad jadi satu-satunya cara untuk menegakkan agama, maka tujuan agama bukan untuk menyelamtkan orang, tapi untuk bunuh orang

Oleh karena itu, agama ini ditegakkan Rasulullah dengan panduan yang sangat jelas. Allah berfirman: “Katakan wahai Rasulullah Muhammad Ini jalan aku” Apa jalnnya? Mengajak orang kepada Allah. Rasulullah diwajibkan berjihad setelah 15 tahun beliau berdakwah. Yakni nabi berdakwah selama 23 tahun, lebih dari ½ periodenya beliau lakukan dengan mengajak kepada jalan Allah dengan tidak berjihad. Dan bilamana kita lihat sejarah, beliau berperang +/- 27x, itupun tak semuanya berlaku perang berperang. Jadi kalau ditotal korban perang tak sampai puluhan ribu, seperti perang zaman kita sekarang. Intinya, jihad merupakan kewajiban yang dilakukan pada saat-saat tertentu, tapi intipati dalam menegakkan agama adalah dengan hikmah, mauidhoh, dengan berdebat. Bilamana berlaku halangan penyebaran agama di suatu tempat dan mengancam pada agama, maka baru disitu ditegakkan jihad.

Jihad itu seperti sholat, seseorang mesti mempelajari tentang bagaimana tata cara jihad. Ada syaratnya, ada rukunnya, ada adabnya, ada sunnahnya yang perlu dipelajari sebelum sholat. Begitu juga dengan jihad, pelajari dulu baru menunaikan jihad. 


Dalam Surat An Nisa’, Allah SWT berfirman:

71. “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama.”

Disini Allah menceritakan tentang strategy dalam berjihad dengan keluar sedikit demi sedikit / dengan maju semua. Kalau musuh sedikit, tak perlu keluar dan maju semua. Jadi sesuaikan dengan keperluannya saja.

72. dan Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran)*). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.

*)Sangat merasa keberatan ikut pergi berperang

Mereka ini adalah golongan orang-orang munafik dan berkhianat. Kerap kali ketika kaum muslimin berangkat berjihad dan membutuhkan kekuatan, mereka kembali pulang tak mau ikut berjihad. Dalam perang uhud ada 1000 kaum muslimin, yang kembali 300. Sementara musuh sebanyak 3000 lebih. Bila umat islam kalah, mereka bersyukur ‘Alhamdulillah aku tak ikut perang’ karena bila ia ikut perang bisa saja terbunuh. Orang-orang seperti ini senantiasa ada di setiap zaman. Kaum muslimin yang ikut berjihad dan kalah, mati itu tak boleh dikatakan kalah. Mereka itu syahid dan hidup, serta menempati derajat tinggi di surga

73. dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah Dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: "Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)"


Bila Kaum muslimin menang, mereka (orang-orang munafik) mengatakan “Andai aku ikut dengan mereka sehingga aku mendapat kejayaan yang besar” Apa kejayaan yang mereka inginkan? Mereka ingin harta rampasan perang saja, itulah agama mereka. Mereka gembira jika kaum muslimin susah dan mereka susah jika kaum muslimin senang.

Hal ini menjadi pelajaranbagi kita supaya kita bisa menempatkan kesenangan dan kesusahan. Jangan sekali kali kita senang bilamana musibah menimpa saudara islam kita walaupun kita ada masalah dengan dia. dan begitu juga jangan kita tak suka bila kejayaan didapat oleh saudara kita, walaupun kita sedang ada masalah dengan dia

74. karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat*) berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan Maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

*) Orang-orang mukmin yang mengutamakan kehidupan akhirat atas kehidupan dunia ini.

Berjihadlah di jalan Allah, bukan karena hawa nafsu, bukan karena golongannya saja. Jihad mesti fisabilillah danikhlas. Siapa yang diutus jihad? Orang yang mau menjual / menukar kehidupan dunia yang sementara, sedikit dan singkat ini dengan kehidupan kekal di akhirat. Rasulullah bersabda “Orang yang cerdik adalah orang yang beramal di dunia untuk mendapat buahnya di akhirat”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jihad dan Cara Menyikapinya"

Post a Comment